Tekno, Jakarta - Para ilmuwan menamai Bukti Ini Pasokan Dinosaurus T-rex Punya Hidung yang Peka

Mereka terlindung lapisan bertulang dari moncong sampai ujung ekor, seringkali berduri dan ujung ekornya bisa digunakan untuk menghancurkan kaki-kaki predator seperti sepupu Tyrannosaurus rex, Gorgosaurus, yang hidup bersama Zuul.

Zuul adalah fosil ankylosaur paling lengkap dan terpelihara yang pernah ditemukan menurut ahli paleontologi Victoria Arbour dari Royal Ontario Museum di Toronto.

Fosil itu masih memiliki jaringan halus, impresi kulit dan lapisan keratin pada duri-duri ekor.

Dalam film tahun 1984, Zuul digambarkan sebagai makhluk setengah dewa Near East berupa monster serupa anjing besar bertanduk dengan mata merah berpijar.

Baca: 20 Jejak Kaki Dinosaurus Berbeda Ditemukan di Pantai Australia

Penamaan dinosaurus itu terinspirasi oleh kemiripan bentuk tengkoraknya dengan tengkorak monster "Ghostbusters" monster, kata ahli paleontologi Royal Ontario Museum, David Evans.

"Tengkorak dinosaurus baru itu memiliki moncong pendek membulat, dahi bengkok, dan dua set tanduk mengarah ke belakang dari belakang mata, persis seperti Zuul," kata Evans.

Aykroyd, bintang dan salah satu penulis naskah "Ghostbusters" kelahiran Ontario, muncul dalam video yang dikeluarkan museum bersama tengkorak dinosaurus itu, memegang foto binatang buas dalam film.

"Kami merasa sangat terhormat Royal Ontario Museum akan menyesuaikan nama makhluk ini dengan sebutan yang kami gunakan untuk 'anjing teror' dalam film, dan itu Zuul, Z-U-U-L," kata Aykroyd.

Ekor dinosaurus itu, yang panjangnya sekitar tiga meter, merupakan senjata pertahanan yang mengintimidasi.

"Ekor berduri Zuul yang menghancurkan itu sejauh ini merupakan bagian terkeren dari binatang ini," kata Evans sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

"Punya serangkaian duri besar keras pada dasar ekor, kemudian serangkaian tulang belakang yang memuncak dan memanjang sampai ujung ekor, dan itu berakhir pada ujung ekor yang masif dan membesar."

Hasil riset itu dipublikasikan dalam jurnal Royal Society Open Science.

ANTARA