Bisnis, Jakarta - Sebanyak enam bandara di Indonesia yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero) tercatat mengalami kerugian. Rendahnya daya beli masyarakat dan arus penerbangan ditenggarai menjadi penyebab kerugian tersebut.

"Memang banyak bandara yang terpaksa merugi, secara bisnis aeronautika dan non aeronautika sama-sama belum maksimal," kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Danang S. Baskoro, saat menghadiri peringatan ulang tahun perusahaan ke-53 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 25 Februari 2017.

Secara bisnis aeronautika, menurut Danang, jumlah penerbangan menuju dan dari keenam bandara tersebut memang lebih rendah. "Secara non aeronautika, seperti penjualan produk, sewa kios, juga sepi," ujarnya.

Baca : Pengamat: Surat Sudirman Said Jadi Kelemahan Hadapi Freeport

Keenam bandara tersebut, ucap Danang, adalah Bandara Partimura (Ambon), Bandara Frans Kaisiepo (Biak), Bandara El Tari (Kupang), Bandara Sam Ratulangi (Manado), Bandara Adi Sumarmo (Solo), dan Bandara Ahmad Yani (Semarang). Danang menambahkan bahwa persoalan keterbatasan infrastruktur pariwisata di daerah-daerah tersebut juga bukanlah penyebab rendahnya arus penerbangan.

"Bagaimanapun, kuncinya adalah penaikan daya beli ekonomi dan pemulihan ekonomi, selain juga pada aspek keamanan,” ungkapnya. 

Dia mencontohkan bagaimana mobilitas pergerakan manusia dari dan menuju daerah Ambon masih rendah, meski sejak sudah lebih baik sejak terjadinya kerusuhan di daerah tersebut.

Baca : Dibanding KK, IUPK Dinilai Lebih Menguntungkan bagi Freeport

"Selama ini, kerugian dari keenam bandara tersebut ditutupi dengan mekanisme subsidi silang dari bandara yang mencatatkan profit, seperti Surabaya." Pemerintah, menurut Danang, tentu tidak bisa menutupi kerugian tersebut dengan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, ditanggung oleh Angkasa Pura I dengan mekanisme subsidi silang tersebut.

Akibat hal ini, Danang mengakui bahwa tidak bisa lantas menyamakan kualitas bandara di Indonesia dengan negara lain. "Saya kalau hanya satu lawan satu antara Bandara Juanda (Surabaya) dengan Bandara Incheon (Korea Selatan), saya berani, tapi kenyataanya Indonesia kan punya lebih banyak bandara yang harus diakomodir," Angkasa Pura, menurutnya, harus bisa memastikan bahwa pelayanan di setiap bandara di Indonesia harus sesuai dengan standar yang ada.

FAJAR PEBRIANTO